Kapolri Tolak Polri di Bawah Kementerian Pilih Jadi Petani
beritagram.web.id Pernyataan tegas Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo kembali menarik perhatian publik. Dalam rapat bersama Komisi III DPR RI, Kapolri secara terbuka menyampaikan sikapnya terkait wacana penempatan Kepolisian Republik Indonesia di bawah kementerian tertentu. Ia menegaskan penolakannya terhadap gagasan tersebut dan bahkan menyampaikan pernyataan yang cukup mencuri perhatian.
Menurut Kapolri, apabila dirinya harus memilih antara memimpin institusi kepolisian yang berada di bawah kementerian atau meninggalkan jabatan, maka ia memilih opsi terakhir. Bahkan dengan nada lugas, ia menyebut lebih baik menjadi petani daripada memimpin Polri dalam struktur yang berada di bawah kementerian.
Pernyataan ini memicu beragam reaksi, baik dari kalangan legislatif, pengamat hukum, hingga masyarakat luas.
Pengakuan Pernah Ditawari Jabatan Menteri Kepolisian
Dalam forum resmi tersebut, Kapolri mengungkap bahwa dirinya pernah mendapat tawaran untuk menjadi Menteri Kepolisian. Tawaran itu, menurut pengakuannya, tidak hanya datang sekali, tetapi beberapa kali disampaikan melalui berbagai jalur komunikasi.
Ia menyebut ada pihak yang menyampaikan langsung, bahkan melalui pesan pribadi, menanyakan kesediaannya jika jabatan Menteri Kepolisian benar-benar dibentuk. Tawaran tersebut muncul seiring dengan wacana lama mengenai restrukturisasi institusi Polri dalam sistem pemerintahan.
Namun sejak awal, Kapolri menegaskan bahwa dirinya tidak pernah tertarik dengan gagasan tersebut.
Penolakan Tegas atas Wacana Polri di Bawah Kementerian
Kapolri menilai bahwa menempatkan Polri di bawah kementerian bukanlah solusi tepat bagi sistem penegakan hukum di Indonesia. Menurutnya, independensi kepolisian merupakan elemen penting dalam menjaga keadilan, profesionalisme, dan kepercayaan publik.
Ia menegaskan sikap tersebut di hadapan jajaran DPR dan seluruh personel kepolisian. Pernyataan itu disampaikan bukan sebagai sikap pribadi semata, melainkan sebagai pandangan institusional.
Bagi Kapolri, struktur Polri yang berdiri langsung di bawah presiden memiliki fungsi strategis dalam menjaga stabilitas keamanan dan penegakan hukum yang netral.
Lebih Baik Jadi Petani
Kalimat yang paling menyita perhatian publik adalah saat Kapolri menyatakan lebih memilih menjadi petani dibanding memimpin kepolisian yang berada di bawah kementerian. Ungkapan tersebut dinilai sebagai bentuk sikap prinsipil sekaligus simbol penolakan keras.
Pernyataan itu mencerminkan bahwa jabatan tinggi bukanlah tujuan utama. Yang lebih penting bagi dirinya adalah menjaga marwah dan independensi institusi kepolisian.
Ucapan tersebut juga memperlihatkan sikap personal yang kuat terhadap nilai-nilai profesionalisme dan integritas lembaga.
Independensi Polri Jadi Sorotan
Wacana Polri di bawah kementerian bukanlah isu baru. Sejak lama, diskusi mengenai posisi kelembagaan kepolisian kerap muncul dalam ruang publik, terutama berkaitan dengan penguatan pengawasan dan reformasi institusi.
Namun banyak pihak menilai bahwa jika Polri berada di bawah kementerian, potensi intervensi politik bisa semakin besar. Hal inilah yang menjadi kekhawatiran utama sejumlah kalangan, termasuk Kapolri sendiri.
Independensi dianggap sebagai fondasi utama agar kepolisian dapat bekerja tanpa tekanan kekuasaan.
Pandangan Terhadap Reformasi Kepolisian
Kapolri menegaskan bahwa reformasi kepolisian tidak harus dilakukan melalui perubahan struktur kelembagaan. Menurutnya, pembenahan dapat dilakukan melalui peningkatan profesionalisme, transparansi, serta penguatan pengawasan internal dan eksternal.
Ia menilai bahwa reformasi sejati terletak pada perubahan budaya kerja, bukan sekadar perubahan garis komando.
Pendekatan ini dianggap lebih efektif untuk membangun kepercayaan publik terhadap Polri.
Respons Publik dan Pengamat
Pernyataan Kapolri tersebut menuai respons beragam. Sebagian masyarakat menilai sikap itu sebagai bentuk keberanian menjaga independensi lembaga. Ungkapan “lebih baik jadi petani” dianggap mencerminkan kesederhanaan sekaligus keteguhan prinsip.
Di sisi lain, pengamat kebijakan publik melihat pernyataan tersebut sebagai sinyal kuat bahwa Polri ingin tetap berdiri sebagai institusi yang bebas dari tarik-menarik kepentingan politik.
Diskusi pun berkembang luas di ruang publik mengenai masa depan kelembagaan Polri.
Hubungan Polri dan Pemerintah
Meski menolak berada di bawah kementerian, Kapolri menegaskan bahwa koordinasi dengan pemerintah tetap berjalan dengan baik. Hubungan kerja antara Polri dan kementerian tetap dilakukan sesuai fungsi masing-masing.
Koordinasi tersebut penting dalam menjaga stabilitas keamanan nasional, namun tanpa mengorbankan independensi struktural.
Dengan posisi langsung di bawah presiden, Polri dinilai memiliki ruang yang lebih seimbang dalam menjalankan tugasnya.
Simbol Sikap Kepemimpinan
Pernyataan Kapolri ini juga mencerminkan gaya kepemimpinan yang berbasis sikap dan prinsip. Ia menunjukkan bahwa jabatan bukanlah segalanya jika harus mengorbankan nilai yang diyakini.
Sikap tersebut memberi pesan kuat kepada jajaran kepolisian bahwa integritas lembaga harus dijaga di atas kepentingan pribadi.
Dalam konteks kepemimpinan nasional, pesan ini memiliki makna simbolik yang cukup besar.
Dinamika Politik dan Kelembagaan
Isu kelembagaan kepolisian selalu berada di persimpangan antara politik dan hukum. Oleh karena itu, setiap pernyataan pejabat tinggi Polri memiliki dampak besar terhadap persepsi publik.
Dengan pernyataan terbuka tersebut, Kapolri seolah menegaskan posisi institusi di tengah dinamika politik yang terus berkembang.
Langkah ini dinilai sebagai bentuk kejelasan sikap agar tidak terjadi spekulasi berkepanjangan.
Kesimpulan
Pernyataan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo mengenai penolakannya terhadap Polri di bawah kementerian menjadi sorotan nasional. Dengan tegas, ia menyatakan lebih baik menjadi petani daripada memimpin kepolisian yang kehilangan independensinya.
Sikap tersebut menegaskan pentingnya menjaga marwah institusi Polri sebagai aparat penegak hukum yang netral dan profesional. Di tengah berbagai wacana reformasi, pernyataan ini memperlihatkan bahwa perubahan struktural bukan satu-satunya jalan.
Bagi Kapolri, integritas dan kemandirian lembaga tetap menjadi nilai utama yang tidak bisa ditukar dengan jabatan apa pun.

Cek Juga Artikel Dari Platform rumahjurnal.online
