Ramai Dikecam, Penampilan Popo Barbie Tuai Kontroversi
Nama Popo Barbie mendadak menjadi perbincangan luas di media sosial sejak akhir April 2025. Kreator konten asal Jambi ini trending setelah mengunggah video yang dianggap melampaui batas oleh banyak warganet. Dalam konten tersebut, Popo tampil dengan gaya menyerupai perempuan—menggunakan wig panjang, crop top, masker—dan merekam dirinya di dalam toilet perempuan. Video ini dengan cepat viral dan memicu gelombang kecaman.
Konten tersebut telah ditonton lebih dari sembilan juta kali dan mengundang puluhan ribu komentar. Banyak pengikut lama Popo mengaku kecewa, karena konten yang sebelumnya dianggap lucu dan menghibur dinilai telah berubah menjadi meresahkan. Fenomena ini memunculkan kembali diskusi tentang batas kreativitas, etika ruang publik, serta tanggung jawab kreator digital.
Awal Viral dan Puncak Kontroversi
Popo Barbie dikenal sebagai kreator dengan ciri khas humor visual dan gerakan tubuh unik yang sering disebut “tari tersengat listrik”. Gaya tersebut sempat membuatnya cepat dikenal di TikTok dan platform lain. Namun, video “lagi di toilet” menjadi titik balik. Bukan sekadar soal penampilan, melainkan lokasi dan konteks yang dianggap sensitif oleh publik.
Warganet menilai tindakan memasuki toilet perempuan—terlepas dari niat konten—berpotensi menimbulkan rasa tidak aman. Kritik pun mengalir, menyoroti risiko peniruan oleh pihak lain dan dampaknya terhadap kenyamanan ruang publik. Sejumlah komentar menyebut konten tersebut “sudah kelewat batas” dan “demi viral mengorbankan etika”.
Meniru Gaya Perempuan: Konten Lama yang Berubah Makna
Perlu dicatat, Popo Barbie memang kerap berdandan menggunakan wig untuk kebutuhan konten sejak lama. Pada fase awal kariernya, penggunaan wig dan busana perempuan dianggap bagian dari komedi visual—parodi yang tidak menargetkan ruang sensitif. Namun, seiring meningkatnya intensitas dan konteks konten, persepsi publik pun berubah.
Berikut rangkuman penampilan Popo Barbie yang sempat viral dan menuai sorotan:
- Wig Panjang dan Crop Top
Dalam salah satu unggahan, Popo mengenakan wig panjang dan crop top. Sekilas, tampilannya menyerupai perempuan. Gaya ini sempat memancing tawa, namun kemudian dipersoalkan ketika konteks lokasinya menjadi sorotan. - Berdandan Ala Pengantin Wanita
Beberapa hari sebelum puncak kecaman, Popo viral karena berdandan ala pengantin wanita. Banyak warganet mengaku “pangling” karena riasannya dinilai rapi dan total. - Wig Cokelat dan Jepit Rambut
Popo tampil dengan wig cokelat, atasan merah, dan jepit rambut. Sebagian komentar menyebut ia mirip artis tertentu—menunjukkan betapa kuat ilusi visual yang ia ciptakan. - Gerakan Khas yang Menghibur
Sebelum kontroversi, Popo dikenal lewat gerakan khas yang dianggap lucu dan energik. Konten ini menjadi fondasi basis penggemarnya. - Masuk Toilet Perempuan
Inilah titik krusial yang memicu kecaman luas. Banyak yang menilai tindakan tersebut meresahkan dan tidak pantas, terlepas dari niat hiburan. - Reaksi Warganet yang Keras
Komentar seperti “Begini banget cari duit” menggambarkan kekecewaan publik. Narasi yang muncul bukan lagi soal kreativitas, melainkan tanggung jawab. - Kekhawatiran Peniruan
Kritik terbesar datang dari kekhawatiran bahwa tindakan Popo dapat ditiru oknum lain, menciptakan masalah keamanan di ruang publik.
Batas Kreativitas dan Etika Konten
Kasus Popo Barbie menyoroti dilema klasik kreator digital: sejauh mana kreativitas boleh dieksplorasi tanpa melanggar norma sosial? Di satu sisi, platform digital mendorong konten unik dan berani. Di sisi lain, ruang publik memiliki aturan tak tertulis yang perlu dihormati.
Pengamat media digital menilai bahwa konteks dan lokasi adalah faktor krusial. Penampilan lintas-gender dalam seni dan hiburan bukan hal baru dan sah-sah saja. Namun, ketika dibawa ke ruang sensitif seperti toilet umum, persepsi publik berubah drastis. Di sinilah etika konten diuji.
Dampak terhadap Citra dan Karier
Gelombang kecaman berdampak langsung pada citra Popo Barbie. Sebagian penggemar lama menyatakan berhenti mengikuti, sementara yang lain berharap Popo melakukan refleksi dan klarifikasi. Dalam ekosistem kreator, satu konten viral dapat mengangkat nama—atau sebaliknya, memicu krisis reputasi.
Banyak warganet menilai Popo perlu kembali ke formula awal yang menghibur tanpa menimbulkan keresahan. Transparansi, permintaan maaf, atau penyesuaian arah konten kerap menjadi langkah yang diharapkan publik dalam situasi serupa.
Pelajaran bagi Kreator Digital
Kasus ini menjadi pengingat bagi kreator lain bahwa popularitas datang dengan tanggung jawab. Konten yang melibatkan ruang publik, identitas, dan privasi memerlukan pertimbangan ekstra. Kreativitas tidak harus berhenti, tetapi perlu diarahkan dengan sensitif terhadap norma dan keamanan.
Pada akhirnya, respons publik terhadap Popo Barbie mencerminkan perubahan ekspektasi audiens. Penonton semakin kritis dan menuntut hiburan yang tidak hanya lucu, tetapi juga aman dan beretika.
Apakah Popo Barbie akan bangkit dan mengembalikan kepercayaan publik? Waktu yang akan menjawab. Yang jelas, peristiwa ini telah menjadi studi kasus penting tentang dinamika budaya digital di Indonesia tahun 2025.
Baca Juga : Cara Parpol Rekrut Artis hingga DPR, Aurelie Speak Up
Jangan Lewatkan Info Penting Dari : beritagram

