Swasembada Jagung Dinilai Ampuh Tekan Angka Kejahatan
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyampaikan pandangan menarik terkait keberhasilan Indonesia mencapai swasembada jagung dalam waktu relatif singkat. Menurutnya, capaian tersebut bukan hanya soal ketahanan pangan, tetapi juga memiliki dampak sosial yang luas, termasuk sebagai langkah preventif untuk menekan angka kejahatan di Tanah Air.
Pernyataan tersebut disampaikan Amran saat menghadiri Panen Raya Jagung Kuartal IV Tahun 2025 di lahan binaan Polda Metro Jaya, Desa Sukamahi, Kecamatan Cikarang Pusat, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat. Panen raya ini dilakukan secara serentak di 36 wilayah Polda se-Indonesia, menjadi simbol kolaborasi lintas sektor antara pemerintah, aparat keamanan, dan petani.
Swasembada Jagung dalam Waktu Singkat
Amran menegaskan bahwa Indonesia berhasil mencapai swasembada jagung hanya dalam waktu satu tahun. Capaian ini dinilai melampaui target awal Presiden Prabowo Subianto yang sebelumnya menargetkan swasembada jagung dalam empat tahun. Menurut Amran, keberhasilan tersebut merupakan buah dari sinergi kebijakan, dukungan anggaran, pendampingan petani, serta keterlibatan aktif aparat keamanan dalam menjaga stabilitas dan mendukung program pangan nasional.
Swasembada jagung berarti Indonesia tidak lagi bergantung pada impor jagung, khususnya untuk kebutuhan pakan ternak. Bahkan, dalam kondisi tertentu, produksi jagung nasional telah melampaui kebutuhan domestik sehingga memungkinkan ekspor ke negara lain.
Hubungan Produksi Pangan dan Pencegahan Kejahatan
Dalam pandangan Amran, peningkatan produksi jagung tidak hanya berdampak pada sektor pertanian, tetapi juga pada stabilitas sosial. Ia menilai bahwa ketika pendapatan petani meningkat, maka tingkat kemiskinan dan pengangguran akan menurun. Kondisi tersebut, menurutnya, berkontribusi langsung pada penurunan potensi tindak kriminal.
“Dengan meningkatnya produksi, yang pertama meningkatkan pendapatan petani, kemudian menurunkan kemiskinan, mengurangi pengangguran, dan pada gilirannya adalah mencegah kejahatan,” ujar Amran. Ia bahkan mengutip pandangan klasik bahwa kemiskinan yang ekstrem dapat mendorong seseorang pada tindakan menyimpang, sehingga upaya peningkatan kesejahteraan menjadi kunci pencegahan kriminalitas.
Peran Aparat dan Sinergi Lintas Sektor
Panen raya jagung yang digelar di lahan binaan kepolisian menjadi bukti nyata peran aparat keamanan dalam mendukung ketahanan pangan. Keterlibatan Polda di berbagai daerah menunjukkan bahwa isu pangan tidak lagi dipandang semata-mata sebagai urusan sektor pertanian, melainkan sebagai bagian dari strategi nasional menjaga stabilitas negara.
Amran secara khusus menyampaikan apresiasi kepada Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo dan Ketua Komisi IV DPR RI Titiek Soeharto atas dukungan mereka terhadap program swasembada pangan. Menurutnya, dukungan kebijakan dan pengawasan legislatif menjadi faktor penting yang mempercepat tercapainya target swasembada jagung.
Dampak Ekonomi bagi Petani
Keberhasilan swasembada jagung memberikan dampak nyata bagi petani. Harga jagung yang lebih stabil, kepastian pasar, serta peningkatan produktivitas membuat pendapatan petani meningkat. Hal ini berdampak langsung pada perputaran ekonomi di desa-desa sentra produksi jagung.
Amran menyebutkan bahwa ada sekitar 160 juta petani di Indonesia yang merasakan manfaat dari kebijakan pangan nasional. Dengan meningkatnya kesejahteraan petani, daya beli masyarakat desa turut meningkat, yang pada akhirnya memperkuat ekonomi nasional dari bawah.
Dari Impor ke Ekspor Jagung
Salah satu indikator keberhasilan swasembada jagung adalah perubahan posisi Indonesia di pasar internasional. Jika sebelumnya Indonesia masih mengimpor jagung, khususnya untuk pakan ternak, kini beberapa daerah justru telah mengekspor jagung ke luar negeri.
Amran menyebutkan Kalimantan Barat sebagai salah satu daerah yang telah mengekspor jagung ke Malaysia. Selain itu, ekspor juga dilakukan ke Filipina dari daerah seperti Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Gorontalo. Ekspor ini tidak hanya meningkatkan devisa negara, tetapi juga memperkuat posisi Indonesia sebagai produsen pangan regional.
Ketahanan Pangan dan Stabilitas Nasional
Keberhasilan swasembada jagung mempertegas pentingnya ketahanan pangan sebagai fondasi stabilitas nasional. Negara yang mampu memenuhi kebutuhan pangannya sendiri dinilai lebih tangguh menghadapi gejolak global, baik dari sisi ekonomi maupun politik.
Dalam konteks ini, swasembada jagung tidak hanya dipandang sebagai capaian teknis pertanian, tetapi juga sebagai strategi jangka panjang menjaga ketahanan nasional. Ketersediaan pangan yang cukup dan terjangkau diyakini dapat meredam potensi konflik sosial yang dipicu oleh kelangkaan atau lonjakan harga bahan pangan.
Tantangan Ke Depan
Meski capaian swasembada jagung patut diapresiasi, Amran mengingatkan bahwa tantangan ke depan masih besar. Perubahan iklim, fluktuasi harga global, serta kebutuhan akan teknologi pertanian modern menjadi pekerjaan rumah yang harus terus diantisipasi.
Pemerintah diharapkan tidak berhenti pada capaian swasembada semata, tetapi juga fokus pada keberlanjutan produksi, peningkatan kualitas hasil panen, serta penguatan rantai distribusi agar manfaatnya dapat dirasakan secara merata oleh petani dan konsumen.
Kesimpulan
Pernyataan Mentan Andi Amran Sulaiman bahwa swasembada jagung dapat mencegah kejahatan membuka perspektif baru dalam melihat hubungan antara sektor pertanian dan stabilitas sosial. Keberhasilan meningkatkan produksi jagung tidak hanya memperkuat ketahanan pangan, tetapi juga berdampak pada penurunan kemiskinan, pengangguran, dan potensi kriminalitas.
Dengan sinergi antara pemerintah, aparat keamanan, legislatif, dan petani, swasembada jagung menjadi contoh nyata bagaimana kebijakan pangan dapat berkontribusi pada kesejahteraan dan keamanan nasional. Ke depan, tantangannya adalah menjaga keberlanjutan capaian ini agar manfaatnya terus dirasakan oleh masyarakat luas.
Baca Juga : Tragedi Anak Politikus PKS di Cilegon, Fakta Terungkap
Cek Juga Artikel Dari Platform : podiumnews

