125 RT Jakarta Masih Terendam Banjir, Warga Mengungsi
beritagram.web.id Banjir kembali menjadi persoalan serius bagi warga Jakarta. Hingga pagi hari, genangan air masih merendam ratusan lingkungan permukiman. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta melaporkan bahwa sebanyak 125 Rukun Tetangga (RT) masih terdampak banjir dengan ketinggian air yang bervariasi. Kondisi ini menyebabkan aktivitas masyarakat terganggu dan memaksa sebagian warga mengungsi ke lokasi yang lebih aman.
Genangan air tidak hanya terjadi di kawasan padat penduduk, tetapi juga meluas ke sejumlah ruas jalan utama. Sedikitnya 14 ruas jalan dilaporkan masih terendam, sehingga menghambat mobilitas warga dan kendaraan. Situasi ini memperlihatkan bahwa banjir masih menjadi tantangan besar bagi ibu kota, terutama saat intensitas hujan meningkat dan sistem drainase tidak mampu menampung debit air.
Sebaran Wilayah Terdampak Banjir
BPBD mencatat banjir terjadi di beberapa wilayah administratif Jakarta. Daerah yang berada di bantaran sungai menjadi lokasi paling rentan terdampak luapan air. Ketinggian air di permukiman warga berkisar dari puluhan sentimeter hingga mencapai lebih dari satu meter di titik tertentu.
Wilayah Jakarta Timur dan Jakarta Selatan menjadi daerah dengan jumlah RT terdampak cukup tinggi. Selain itu, kawasan Jakarta Barat dan Jakarta Utara juga mengalami genangan, terutama di area dengan sistem drainase yang tersumbat atau dekat dengan aliran sungai. Kondisi ini memperlihatkan bahwa banjir tidak lagi bersifat lokal, melainkan menyebar secara luas di berbagai wilayah kota.
Warga Terpaksa Mengungsi
Akibat banjir yang belum surut, banyak warga memilih mengungsi demi keselamatan. Posko pengungsian telah disiapkan oleh pemerintah daerah bekerja sama dengan aparat setempat. Warga yang terdampak biasanya mengungsi ke gedung sekolah, rumah ibadah, balai warga, maupun fasilitas umum lain yang berada di lokasi lebih tinggi.
Di tempat pengungsian, kebutuhan dasar seperti makanan siap saji, air bersih, selimut, dan layanan kesehatan mulai disalurkan. Meski demikian, sebagian warga mengaku masih bertahan di rumah karena khawatir meninggalkan harta benda. Situasi ini menjadi dilema yang kerap terjadi saat banjir melanda kawasan permukiman padat.
Aktivitas Warga Lumpuh
Banjir yang merendam permukiman dan jalan berdampak besar terhadap aktivitas harian masyarakat. Banyak warga kesulitan berangkat bekerja, anak-anak terhambat mengikuti kegiatan belajar, dan aktivitas ekonomi menurun drastis. Kendaraan roda dua dan roda empat tidak dapat melintas di sejumlah titik karena ketinggian air yang cukup tinggi.
Selain itu, pasokan listrik di beberapa wilayah sempat dipadamkan demi alasan keselamatan. Hal ini menambah kesulitan warga, terutama bagi mereka yang masih bertahan di rumah. Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa dampak banjir tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga memengaruhi stabilitas sosial dan ekonomi masyarakat.
Upaya Penanganan dari Pemerintah
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui BPBD terus melakukan langkah-langkah penanganan darurat. Petugas gabungan diterjunkan untuk melakukan evakuasi, pemantauan ketinggian air, serta pendistribusian bantuan logistik kepada warga terdampak.
Pompa air diaktifkan secara maksimal untuk mempercepat surutnya genangan. Selain itu, petugas juga melakukan pembersihan saluran air yang tersumbat sampah. Koordinasi dengan instansi terkait terus dilakukan agar proses penanganan dapat berjalan lebih efektif dan merata di seluruh wilayah terdampak.
Faktor Penyebab Banjir
Banjir yang melanda Jakarta kali ini dipicu oleh beberapa faktor. Curah hujan dengan intensitas tinggi menjadi penyebab utama meningkatnya debit air sungai. Selain itu, kiriman air dari wilayah hulu turut memperparah kondisi, terutama bagi daerah yang berada di sepanjang aliran sungai besar.
Masalah klasik seperti penyempitan sungai, sedimentasi, serta buruknya sistem drainase juga menjadi faktor pendukung terjadinya banjir. Di beberapa lokasi, saluran air yang tertutup sampah menyebabkan air meluap ke permukiman warga. Hal ini menunjukkan pentingnya peran bersama antara pemerintah dan masyarakat dalam menjaga lingkungan.
Kekhawatiran Warga Akan Banjir Berulang
Sebagian warga mengaku khawatir banjir akan kembali terjadi meski air mulai surut. Pengalaman banjir yang datang berulang kali membuat masyarakat merasa waswas, terutama bagi mereka yang tinggal di wilayah langganan genangan.
Warga berharap adanya solusi jangka panjang yang lebih konkret, mulai dari normalisasi sungai, perbaikan drainase, hingga pembangunan sistem pengendalian air yang lebih modern. Tanpa langkah berkelanjutan, banjir dikhawatirkan akan terus menjadi ancaman tahunan bagi Jakarta.
Harapan dan Langkah Ke Depan
Peristiwa banjir ini kembali menjadi pengingat bahwa persoalan tata kota dan lingkungan perlu mendapat perhatian serius. Penanganan darurat memang penting, namun upaya pencegahan jangka panjang tidak kalah krusial.
Edukasi masyarakat mengenai pengelolaan sampah, peningkatan ruang terbuka hijau, serta optimalisasi infrastruktur pengendali banjir menjadi kunci utama. Dengan kerja sama antara pemerintah dan warga, diharapkan risiko banjir dapat ditekan dan dampaknya tidak terus berulang setiap waktu.
Banjir yang masih merendam 125 RT ini menjadi gambaran nyata bahwa Jakarta masih menghadapi tantangan besar dalam menghadapi cuaca ekstrem. Meski demikian, dengan penanganan yang cepat dan perencanaan yang matang, harapan untuk mengurangi dampak banjir tetap terbuka ke depannya.

Cek Juga Artikel Dari Platform beritabandar.com
