Menhub Wanti-wanti Keamanan Jalur KA Jelang Ramadan 2026
Masa angkutan Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 (Nataru) hampir berakhir. Namun, Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi menegaskan bahwa pekerjaan besar sektor transportasi belum selesai. Ia mewanti-wanti seluruh pemangku kepentingan, khususnya operator kereta api, agar tidak lengah menjaga keselamatan dan keamanan layanan, mengingat jarak waktu menuju Ramadan dan Lebaran 2026 tergolong sangat singkat.
Peringatan tersebut disampaikan Menhub Dudy di tengah masih berlangsungnya arus balik Nataru, yang menjadi fase krusial setelah puncak pergerakan masyarakat pada libur panjang akhir tahun. Menurutnya, evaluasi dan persiapan harus dilakukan sejak dini agar transisi dari angkutan Nataru menuju angkutan Lebaran dapat berjalan mulus.
Fokus pada Keselamatan Jalur Kereta Api
Dalam keterangannya, Menhub secara khusus menyoroti kondisi lintasan kereta api yang berpotensi terdampak cuaca ekstrem. Curah hujan tinggi, longsor, genangan, hingga gangguan prasarana rel menjadi ancaman nyata yang tidak boleh diabaikan, terutama di sejumlah wilayah rawan.
“Jangan sekali-sekali lengah, karena pekerjaan kita tidak hanya Nataru. Sebentar lagi kita akan masuk bulan puasa. Kita hanya punya waktu barangkali satu bulan untuk mempersiapkan segala sesuatunya,” ujar Dudy, Jumat (2/1/2026).
Ia menekankan bahwa kesiapsiagaan harus dilakukan secara berlapis, mulai dari pengecekan infrastruktur rel, sistem persinyalan, jembatan, hingga kesiapan sumber daya manusia di lapangan. Menurutnya, keselamatan perjalanan kereta api merupakan faktor utama yang tidak boleh dikompromikan, terlebih saat volume penumpang tinggi.
Arus Balik Nataru Masih Padat
Meski puncak arus mudik Nataru telah terlewati, arus balik masih menunjukkan intensitas tinggi di sejumlah wilayah. Kereta api tetap menjadi salah satu moda transportasi favorit masyarakat karena dinilai aman, nyaman, dan tepat waktu.
Salah satu wilayah dengan tingkat mobilitas penumpang yang signifikan adalah Daerah Istimewa Yogyakarta. Selama masa angkutan Nataru, jumlah penumpang kereta api di wilayah ini tercatat mencapai 931.806 orang, meningkat sekitar 10 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang berjumlah 844.959 penumpang.
Kenaikan ini menunjukkan kepercayaan publik terhadap layanan kereta api yang terus meningkat. Namun di sisi lain, tingginya volume penumpang juga menuntut standar pengawasan dan pelayanan yang semakin ketat.
KAI Diminta Tingkatkan Layanan dan Pengamanan
Menhub Dudy meminta PT Kereta Api Indonesia (KAI) untuk tidak hanya fokus pada kelancaran operasional, tetapi juga meningkatkan aspek kenyamanan dan keamanan penumpang di area stasiun maupun selama perjalanan.
Beberapa langkah konkret yang diminta antara lain penambahan fasilitas penunjang di stasiun, seperti pendingin ruangan di ruang tunggu, pengelolaan arus penumpang yang lebih tertib, serta penambahan petugas keamanan, khususnya pada jam-jam padat.
“Jangan sampai nanti terjadi segala sesuatu yang kita tidak kehendaki. Meningkatnya layanan tidak hanya membuat para penumpang nyaman, tapi para penumpang juga merasa aman ada di area stasiun ini,” tegas Dudy.
Ia juga menyoroti pentingnya perlindungan terhadap kelompok rentan, seperti anak-anak, lansia, dan penyandang disabilitas, yang jumlahnya cenderung meningkat pada masa libur panjang dan arus balik.
Transisi Nataru ke Ramadan Jadi Tantangan
Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, jarak antara berakhirnya angkutan Nataru dan dimulainya Ramadan 2026 relatif singkat. Kondisi ini membuat masa persiapan menuju angkutan Lebaran menjadi lebih sempit.
Menhub menilai bahwa transisi ini harus dikelola dengan perencanaan yang matang. Evaluasi angkutan Nataru perlu segera dilakukan untuk mengidentifikasi titik-titik lemah, baik dari sisi infrastruktur, manajemen operasional, maupun pelayanan penumpang.
“Hanya ada waktu sekitar satu bulan. Itu waktu yang sangat singkat untuk melakukan pembenahan, jadi semuanya harus dipersiapkan dengan baik dari sekarang,” katanya.
Cuaca Ekstrem Jadi Faktor Kunci
Salah satu tantangan utama yang ditekankan Menhub adalah faktor cuaca. Musim hujan dengan intensitas tinggi berpotensi menimbulkan gangguan di lintasan kereta api, mulai dari genangan di jalur rel, pergeseran tanah, hingga longsor di wilayah perbukitan.
Menhub meminta agar inspeksi jalur dilakukan secara rutin dan menyeluruh, terutama di daerah rawan bencana. Ia juga mendorong penggunaan teknologi pemantauan untuk mendeteksi potensi gangguan sejak dini, sehingga langkah pencegahan dapat dilakukan sebelum terjadi insiden.
Keselamatan Jadi Prioritas Nasional
Peringatan Menhub ini menegaskan bahwa keselamatan transportasi publik merupakan prioritas nasional yang tidak boleh terputus oleh pergantian agenda tahunan. Nataru, Ramadan, dan Lebaran adalah rangkaian periode sibuk yang saling berdekatan, sehingga membutuhkan konsistensi pengelolaan yang tinggi.
Kereta api, sebagai moda massal dengan volume penumpang besar, memegang peran strategis dalam menjaga kelancaran mobilitas masyarakat. Karena itu, Menhub berharap seluruh jajaran KAI dan pemangku kepentingan terkait tetap menjaga disiplin, profesionalisme, dan kesiapsiagaan di setiap lini.
Harapan Menhub ke Depan
Menhub Dudy berharap agar keberhasilan pengelolaan angkutan Nataru dapat menjadi fondasi kuat untuk menghadapi angkutan Ramadan dan Lebaran 2026. Dengan evaluasi cepat, perbaikan berkelanjutan, serta komitmen pada keselamatan, ia optimistis layanan kereta api dapat terus menjadi andalan masyarakat.
“Tujuan kita sederhana, masyarakat bisa bepergian dengan aman, nyaman, dan selamat. Itu yang harus kita jaga bersama,” pungkasnya.
Dengan peringatan ini, pemerintah mengingatkan bahwa selesainya satu agenda besar bukan berarti tugas berakhir. Justru, kewaspadaan harus terus ditingkatkan demi memastikan transportasi publik nasional tetap andal menghadapi tantangan waktu dan cuaca yang semakin kompleks.
Baca Juga : 33 Ribu Pengunjung Padati TMII di Hari Pertama 2026
Cek Juga Artikel Dari Platform : updatecepat

