Enam Koperasi Bener Meriah Terdampak Banjir dan Longsor
beritagram.web.id Bencana hidrometeorologi yang melanda wilayah Kabupaten Bener Meriah meninggalkan dampak serius bagi sektor ekonomi kerakyatan, khususnya koperasi. Banjir dan longsor tidak hanya merusak infrastruktur umum, tetapi juga memukul aktivitas ekonomi anggota koperasi yang selama ini bergantung pada sektor pertanian, terutama kopi.
Berdasarkan data sementara yang dihimpun melalui sistem pelaporan kerusakan koperasi, tercatat enam koperasi di Bener Meriah terdampak langsung oleh bencana tersebut. Kerusakan yang dilaporkan mencakup kebun kopi milik anggota koperasi serta sarana dan prasarana pendukung kegiatan usaha koperasi.
Data Kerusakan Masih Bersifat Dinamis
Pemerintah daerah menegaskan bahwa data yang masuk saat ini masih bersifat sementara. Proses pendataan dan verifikasi di lapangan terus berjalan seiring masuknya laporan terbaru dari koperasi terdampak. Hal ini membuka kemungkinan adanya penambahan jumlah koperasi maupun luasan kerusakan yang tercatat.
Pendekatan ini dilakukan agar setiap bentuk kerusakan dapat dipetakan secara akurat. Dengan data yang valid, langkah penanganan dan pemulihan diharapkan bisa lebih tepat sasaran, terutama dalam mendukung keberlangsungan usaha koperasi dan kesejahteraan anggotanya.
Enam Koperasi yang Terdampak
Adapun koperasi yang telah melaporkan dampak kerusakan antara lain Koperasi Produsen Bersama Mandiri Sejahtera, Koperasi Produsen Petani Kopi Arabika, Koperasi Produsen Kopi Wanita Gayo, KSU Buana Mandiri, Koperasi Produsen Sumatera Permata Gayo Coffee, serta KSU Permata Gayo.
Keenam koperasi ini mayoritas bergerak di sektor kopi, yang menjadi komoditas unggulan daerah. Kerusakan kebun kopi akibat banjir dan longsor tentu berdampak langsung pada produksi, kualitas hasil panen, hingga pendapatan anggota koperasi.
Luasan Kebun Kopi yang Rusak
Rekapitulasi sementara menunjukkan bahwa luasan kebun kopi anggota koperasi yang terdampak cukup signifikan. Kerusakan berat tercatat mencapai lebih dari dua ratus hektare. Selain itu, terdapat ratusan hektare kebun dengan kategori rusak sedang dan rusak ringan.
Kerusakan tersebut tersebar di berbagai kecamatan, termasuk wilayah Bukit, Bandar, Wih Pesam, Permata, Bener Kelipah, Mesidah, dan Timang Gajah. Sebaran kerusakan ini menunjukkan bahwa bencana berdampak luas dan tidak terfokus pada satu kawasan saja.
Dampak Terhadap Produksi dan Ekonomi Anggota
Kebun kopi yang rusak tentu berimplikasi pada penurunan produksi. Bagi anggota koperasi, kondisi ini menjadi tantangan besar karena kopi merupakan sumber penghidupan utama. Kerusakan lahan tidak hanya mempengaruhi panen dalam jangka pendek, tetapi juga berpotensi mengganggu produktivitas tanaman dalam beberapa musim ke depan.
Selain kebun, sejumlah fasilitas pendukung seperti tempat pengolahan dan penjemuran kopi juga mengalami kerusakan. Padahal, fasilitas tersebut berperan penting dalam menjaga kualitas kopi sebelum dipasarkan.
Koperasi dengan Dampak Terparah
Dari seluruh koperasi yang melaporkan kerusakan, KSU Permata Gayo disebut sebagai koperasi dengan dampak paling berat. Kerusakan tidak hanya terjadi pada lahan anggota, tetapi juga pada bangunan koperasi dan fasilitas penunjang usaha.
Estimasi awal menunjukkan potensi kerugian yang sangat besar. Nilai kerugian tersebut mencerminkan besarnya tantangan yang harus dihadapi koperasi dalam upaya memulihkan kegiatan usaha dan pelayanan kepada anggota.
Peran Pemerintah Daerah
Pemerintah daerah melalui Dinas Koperasi dan UKM Kabupaten Bener Meriah terus melakukan pendampingan dan koordinasi dengan koperasi terdampak. Langkah ini dilakukan untuk memastikan setiap laporan kerusakan tercatat dengan baik dan dapat dijadikan dasar pengambilan kebijakan.
Selain pendataan, pemerintah juga menyiapkan skema pemulihan yang mencakup perbaikan sarana koperasi, pemulihan kebun kopi, serta penguatan kapasitas koperasi pascabencana. Dukungan lintas sektor dinilai penting agar koperasi dapat kembali beroperasi secara normal.
Tantangan Pemulihan Pascabencana
Pemulihan koperasi pascabencana bukan perkara mudah. Dibutuhkan waktu, sumber daya, serta sinergi berbagai pihak. Selain perbaikan fisik, koperasi juga perlu didukung dari sisi pembiayaan dan pendampingan usaha agar anggota tidak kehilangan mata pencaharian.
Kondisi ini menjadi pengingat bahwa koperasi, sebagai tulang punggung ekonomi rakyat, sangat rentan terhadap bencana alam. Oleh karena itu, ke depan diperlukan strategi mitigasi risiko yang lebih kuat, termasuk penguatan sistem perlindungan usaha koperasi.
Harapan ke Depan
Meski menghadapi tantangan besar, pemerintah daerah dan koperasi tetap optimistis. Dengan pembaruan data yang berkelanjutan dan verifikasi lapangan yang akurat, diharapkan penanganan dampak bencana dapat dilakukan secara menyeluruh.
Koperasi di Bener Meriah diharapkan mampu bangkit kembali melalui dukungan kebijakan, solidaritas anggota, dan sinergi dengan berbagai pemangku kepentingan. Pemulihan sektor koperasi bukan hanya soal ekonomi, tetapi juga tentang menjaga ketahanan sosial dan keberlanjutan penghidupan masyarakat setempat.

Cek Juga Artikel Dari Platform petanimal.org
