Wapres Gibran Tinjau Sekolah Rakyat di Biak Numfor
Wakil Presiden Republik Indonesia Gibran Rakabuming Raka melakukan kunjungan kerja ke Provinsi Papua dengan meninjau langsung operasional Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 41 Biak Numfor. Kunjungan ini menjadi agenda pertama Gibran setibanya di Papua, sekaligus penegasan komitmen pemerintah dalam memperkuat akses pendidikan berkualitas di wilayah timur Indonesia.
Kedatangan Wapres Gibran di kawasan sekolah disambut langsung oleh Kepala Sekolah SRMA 41 Biak, Samuel Yawan, beserta jajaran pengelola. Sekolah tersebut berdiri di atas lahan seluas sekitar 10 hektare dan merupakan bagian dari program nasional Sekolah Rakyat yang dirancang untuk memperluas akses pendidikan menengah bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu.
Bagian dari Program Nasional Sekolah Rakyat
SRMA 41 Biak Numfor merupakan satu dari total 166 Sekolah Rakyat yang dibangun di berbagai daerah di Indonesia. Program ini diinisiasi sebagai upaya menghadirkan pendidikan berasrama yang terjangkau, inklusif, dan merata, terutama di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).
Saat ini, SRMA 41 Biak Numfor menampung sekitar 100 murid yang berasal dari berbagai distrik di Kabupaten Biak Numfor. Para siswa tersebut tidak hanya bersekolah, tetapi juga tinggal di asrama yang disediakan sekolah. Para murid mengaku telah menjalani kehidupan belajar dan tinggal di sekolah rakyat tersebut selama kurang lebih enam bulan.
Dalam dialog singkat bersama para siswa, Wapres Gibran mendengarkan langsung pengalaman mereka selama mengikuti pendidikan di sekolah rakyat. Para murid menyampaikan bahwa sistem berasrama membantu mereka lebih fokus belajar, meski masih terdapat sejumlah tantangan, salah satunya keterbatasan tenaga pengajar.
Tinjau Fasilitas Sekolah dan Asrama
Dalam kunjungannya, Gibran berkeliling meninjau berbagai fasilitas utama sekolah. Ia melihat langsung ruang kelas, asrama putra dan putri, ruang makan bersama, kamar mandi, hingga laboratorium komputer. Peninjauan dilakukan untuk memastikan fasilitas pendukung pembelajaran benar-benar berfungsi dan layak digunakan oleh siswa.
Gibran menyatakan bahwa secara umum fasilitas di sekolah rakyat tersebut sudah sangat baik. Bahkan, ia menilai kualitas fasilitas yang tersedia di Sekolah Rakyat Biak Numfor lebih baik dibandingkan sejumlah sekolah negeri di daerah lain.
“Fasilitasnya bagus, bahkan bisa dibilang lebih baik dari beberapa sekolah negeri. Tinggal kita pastikan kualitas pengajar dan proses belajarnya terus ditingkatkan,” ungkap Gibran saat berdialog dengan pihak sekolah.
Penilaian ini sekaligus menjadi sinyal bahwa pemerintah ingin Sekolah Rakyat tidak dipandang sebagai sekolah alternatif kelas dua, melainkan sebagai lembaga pendidikan yang setara dan bahkan unggul dalam aspek fasilitas dan pembinaan karakter.
Sorotan Kekurangan Tenaga Pengajar
Meski fasilitas dinilai memadai, pihak sekolah mengungkapkan bahwa SRMA 41 Biak Numfor masih mengalami kekurangan tenaga pendidik. Kondisi ini menjadi salah satu perhatian utama dalam kunjungan Wapres.
Dengan jumlah siswa mencapai 100 orang, beban mengajar guru dinilai cukup berat, terutama untuk mata pelajaran tertentu dan pembinaan siswa di luar jam belajar formal. Sistem berasrama menuntut kehadiran pendidik yang tidak hanya mengajar di kelas, tetapi juga membimbing siswa dalam kehidupan sehari-hari.
Gibran menegaskan bahwa pemerintah pusat akan berkoordinasi dengan kementerian terkait untuk mencari solusi, termasuk penambahan guru, skema penugasan khusus, serta optimalisasi peran tenaga pendamping pendidikan.
“Kita ingin anak-anak di Papua mendapatkan kualitas pendidikan yang sama, bahkan lebih baik. Jadi persoalan guru ini harus segera kita carikan jalan keluarnya,” ujarnya.
Didampingi Sejumlah Pejabat Penting
Dalam kunjungan tersebut, Wapres Gibran turut didampingi sejumlah pejabat nasional dan daerah. Hadir antara lain Mathius Derek Fakhiri, Kepala Staf Angkatan Darat Maruli Simanjuntak, Wakil Menteri Dalam Negeri Ribka Haluk, serta Ketua Komite Eksekutif Percepatan Pembangunan Otonomi Khusus Papua Velix Wanggai.
Kehadiran para pejabat tersebut menunjukkan bahwa kunjungan ini bukan sekadar seremonial, melainkan bagian dari agenda strategis lintas sektor dalam percepatan pembangunan Papua, khususnya di bidang sumber daya manusia.
Pendidikan sebagai Fondasi Pembangunan Papua
Melalui kunjungan kerja ini, Gibran kembali menegaskan bahwa pendidikan menjadi fondasi utama dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat Papua. Pemerintah, kata dia, berkomitmen untuk terus hadir secara nyata, tidak hanya melalui pembangunan infrastruktur fisik, tetapi juga investasi jangka panjang di bidang pendidikan.
Sekolah Rakyat dipandang sebagai instrumen penting untuk memutus rantai kemiskinan struktural dengan menyediakan akses pendidikan menengah yang berkualitas bagi anak-anak dari keluarga prasejahtera.
Selain pendidikan, pemerintah juga menargetkan penguatan sektor kesehatan, ekonomi lokal, serta keamanan sebagai satu kesatuan strategi pembangunan inklusif di Tanah Papua.
Harapan bagi Masa Depan Sekolah Rakyat
Kunjungan Wapres Gibran ke SRMA 41 Biak Numfor diharapkan membawa dampak positif, baik dalam bentuk perhatian publik maupun percepatan tindak lanjut kebijakan. Dengan dukungan pemerintah pusat dan daerah, Sekolah Rakyat di Papua diharapkan mampu berkembang menjadi pusat pembinaan generasi muda yang unggul, berkarakter, dan siap melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi.
Bagi para siswa, kehadiran orang nomor dua di Indonesia itu menjadi suntikan semangat tersendiri. Mereka berharap sekolah rakyat tidak hanya menjadi tempat belajar, tetapi juga jembatan untuk meraih masa depan yang lebih baik.
Melalui langkah-langkah konkret seperti ini, pemerintah menegaskan bahwa pembangunan Papua bukan sekadar wacana, melainkan proses nyata yang dimulai dari ruang kelas dan masa depan anak-anak Papua.
Baca Juga : Tambah Daya PLN Diskon 50 Persen, Begini Cara Klaimnya
Cek Juga Artikel Dari Platform : ngobrol

